Kepemimpinan dan Contoh Kasus



Psikologi Manajemen
KEPEMIMPINAN
Menurut Wahjosumidjo (2005) kepemimpinan di terjemahkan kedalam istilah sifat- sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola- pola, interaksi, hubungan kerja sama antarperan, kedudukan dari satu jabatan administratif, dan persuasif, dan persepsi dari lain- lain tentang legitimasi pengaruh.
Dan George R. Terry (Dalam Miftah Thoha, 2010) mengartikan bahwa kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Miftah Thoha (2010) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain, atau seni memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah  kegiatan perilaku pribadi untuk mempengaruhi orang lain, pola-pola interaksi, dan persuasif supaya di arahkan menentukan dan mencapai tujuan organisasi, serta memperbaiki kelompok dan budayanya.
Menurut Mifta Thoha (2010: 49) gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Macam- macam gaya kepemimpinan antara lain :
a.    Gaya Kepemimpinan Otokratik
Kepemimpinan otokratis sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas.
b.    Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikut sertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
c. Gaya Kepemimpinan Permisif
Pemimpin permisif merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat, sikapnya serba boleh.
Tipe Kepemimpinan  juga dibagi dua, yaitu transformasional dan transaksional. Kepemimpinan transformasional, Bass (1985) mendefinisikan kepemimpinan transformasional didasarkan pada pengaruh dan hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahanuntuk tujuan jangka panjang.. Seorang pemimpin transformasional dapat memotivasi para pengikutnya dengan tiga cara (Yukl, 1998), yaitu: (1) membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan, (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri, dan (3) mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.
Bass (1985, 1990), Avolio & Bass (1995) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki empat karakteristik:
a.         Karisma (Charisma), yaitu memberikan visi dan sense of mission, menanamkan rasa bangga, mendapatkan respect dan ke percayaan    (trust).
b.        Inspirasional, mengkomunikasikan ekspektasi yang tinggi, menggunakan simbol untuk memfokuskan upaya, mengekspresikan tujuan dengan caracara yang sederhana.
c.         Perhatian Individu (Individualized Consideration), memberikan perhatian pada pribadi, menghargai perbedaan setiap individual, memberi nasehat dan pengarahan.
d.        Stimulasi Intelektual (Intelectual Stimulation), menghargai ideide bawahan (promote intelegence), mengembangkan rasionalitas dan melakukan pemecahan masalah secara cermat.
Lalu  Kepemimpinan transaksional terjadi dimana pemimpin yang memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan anggota yang melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klarifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja jangka pendek, dan penghargaan . Bass (1985, 1990) mendefinisikan kedua, yaitu  tipe kepemimpinan transaksional sebagai gaya memimpin dengan memotivasi pengikutnya dengan cara menukar imbalan untuk pekerjaan atau tugas yang telah dilaksanakan misalnya dengan penghargaan, menaikkan upah terhadap pengikutnya yang melakukan kinerja yang tinggi. Tetapi sebaliknya akan memberikan penalti (punishment) terhadap pengikutnya yang mempunyai kinerja yang rendah atau berada di bawah target. Bass (1985, 1990), Avolio & Bass (1995) mengemukakan bahwa kepemimpinan transaksional memiliki empat karakteristik, yaitu:
a.         Imbalan Kontinjen ((Contingen Reward): kontrak pertukaran imbalan untuk suatu upaya, menjanjikan imbalan bagi mereka yang melakukan kinerja dengan baik, dan menghargai prestasi kerja.
b.        MBEAktif (Management by Exception active): mengawasi dan mencari kesenjangan atau penyimpangan dari berbagai aturan standar, malakukan tindakan korektif. Jadi, disini pemimpin selalu mengawasi bawahannya untuk meminimalisir kesalahan, dan ikut mengoreksi ketika menemukan kesalahan tertentu.
c.         MBEPasif (Management by Exception pasive): melakukan intervensi hanya apabila standar hasil kerja tidak tercapai.
Selanjutnya, Stephen Covey (1992) mengembangkan lebih lanjut dalam bukunya ‘Principle-Centred Leadership’ menyatakan perbedaan antara pemimpin transaksional dan pemimpin transformasional sebagai berikut:
Kepemimpinan Transaksional
  • Berdasarkan keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan
  • Dimulai dengan kekuatan, posisi dan politik
  • Berdasarkan kejadian sehari-hari
  • Pencapaian tujuan jangka pendek dan orientasi pada data yang nyata
  • Fokus pada masalah taktis
  • Mengandalkan hubungan yang baik untuk interaksi antar sesame
  • Memenuhi peran yang diharapkan melalui kerja yang efektif sesuai dengan sistem
  • Mendukung sistem dan struktur yang menghasilkan dan memaksimalkan efisiensi dan menjamin keuntungan dalam jangka pendek
Kepemimpinan Transformasional
  • Berdasarkan kebutuhan seseorang untuk suatu arti
  • Dimulai dengan tujuan dan nilai-nilai, moral dan etika
  • Lebih dari (diatas) kejadian sehari-hari
  • Pencapaian tujuan jangka panjang tanpa mengkompromikan nilai-nilai dan prinsip
  • Fokus pada misi dan strategi
  • Mengarahkan potensi; identifikasi dan pengembangan sumber daya
  • Mendesain dan me-re-desain pekerjaan supaya menjadi lebih berarti dan menantang
  • Menyesuaikan struktur dan sistem internal untuk pencapaian nilai dan tujuan

 


CONTOH KASUS


a.                  Transformasional

Mohandas Karamchand Gandhi (lahir di Porbandar, Gujarat, India Britania, 2 Oktober 1869 )madalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.
Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.
Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara. Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.
Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran". Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa). Satyagraha kemudian dijalankan secara luas dan efektif dalam perjuangan kemerdekaan. Perjuangan ini akhirnya mencapai satu titik dimana Inggris tak sanggup bertahan menentang ribuan massa rakyat yang menetangnya, aksi-damai yang menuntut kemerdekaan. Betapapun, Gandhi yakin kepada setiap usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh mereka yang dibimbing langsung olehnya dalam menjalankan Satyagraha, dan karena ajaran dan pelatihan Satyagraha inilah perjuangannya membawa hasil.
Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.

b.      Transaksional

Kali ini saya mencoba untuk memberikan contoh seseorang yang menjadi pemimpin di usia muda, yaitu Billy Boen (lahir di Jakarta, 13 Agustus 1978) yang merupakan pengusaha asal Indonesia. Pada usia yang relatif muda, Pak Billy telah menjadi pimpinan di beberapa perusahaan. Pada 2005, ketika usianya baru 26 tahun, Pak Billy dinobatkan menjadi general manager (GM) PT Oakley Indonesia, dan Ia menjadi GM Oakley termuda di dunia kala itu. Pada akhir 2009, bersama Rudhy Buntaram, pemilik Optik Seis, Pak Billy kemudian mendirikan Jakarta International Management(JIM) dan Jakarta International Consulting (JIC). Pada tahun yang sama, Pak Billy yang merupakan lulusan Utah State University Amerika Serikat ini, bergabung dengan Majalah Roling Stone Indonesia dan menjadi direkturnya. Dan sekarang pak Billy sudah menjadi seorang CEO di PT YOT Nusantara.

Saya mempunyai anggapan bahwa Pak Billy Boen ini memliki gaya kepemimpinan transaksional. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana ia bekerja di PT. YOT Nusantara bersama karyawanannya. Pak Billy, selalu menekankan suatu standar kerja tertentu yang disesuaikan dengan nilai-nilai perusahaan seperti yang ia tuliskan dalam bukunya yang berjudul Young on Top, yang dimana ia juga memotivasi karyawan dengan menukar imbalan atau penghargaan tertentu. Seperti di PT. YOT NUSANTARA, ada penghargaan pada karyawan terbaik dalam satu bulan tertentu. Selain itu, akan ada minus poin sebagai punishment tertentu juga terhadap karyawan maupun anggota YOTCA yang melakukan pelanggaran terhadap kegiatan yang sudah ditentukan dari awal. Dan selanjutnya, Pak Billy juga melakukan pengawasan dan intervensi setelah suatu program kerja telah diselesaikan.


Sumber:
Aronson, Elliot, Wilson, Timothy D., & Akert, Robin M. (2007). Social 
        Psychology (6th). USA: Pearson International Edition
Wagimo, and Djamaludin Ancok. "Hubungan Kepemimpinan Transformasional  dengan Motivasi Bawahan di Militer." Jurnal Psikologi vol. 32, no. 2,  Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada 116 eprints.uny.ac.id
eprints.ung.ac.id
file.upi.edu/Direktori

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIKOTERAPI : Cognitive Behavioral Therapy

Hai!

#3 Kepribadian Menurut Erich Fromm