PSIKOTERAPI : Cognitive Behavioral Therapy

 PSIKOTERAPI
Novia Fridayanti (18514050)
3PA01
Analisis Video:
Subjek             : Perempuan (sekitar 25-26 tahun)
Diagnosa          : Social Anxiety Disorder
Psikoterapi       : Cognitive Behavioral Technique (CBT)
Dalam kasus yang ada di video, disebutkan bahwa subjek yang bernama Hannah merupakan seorang fotografer. Hannah memiliki keluhan bahwa ia seringkali merasa tidak percaya diri dan cemas saat ada di depan orang lain. Hannah mulai merasakan kecemasan tersebut saat ia berusia kira-kira 19 tahun, namun saat di perkuliahan ia merasa hal tersebut tidak terlalu memberikan efek yang signifikan pada dirinya, selain ia berusaha tidak mengikuti pesta dan menolak undangan pesta bersama teman-temannya. Namun, di usia nya yang kini memiliki pekerjaan, dan menekuni bidang fotografi Hannah merasa  kesulitan
Saat harus berhadapan dengan orang lain, Hannah selalu merasa dirinya sangat diperhatikan, dianggap bodoh, dan aneh sehingga menimbulkan gejala seperti, tangan yang sangat gemetar, jantung berdetak kencang, flushing, tidak fokus, sulit bernafas dan berkeringat. Ketika Hannah merasakan gejala tersebut, ia hanya sebisa mungkin terdiam dan menghindari aktivitas apa pun selain fokus pada kamera dan berusaha menahan tombol kameranya, sebelum sesuatu menjadi kacau, dan hal tersebut tentunya sangat mengganggu aktivitas Hannah sebagai seorang fotografer yang mengharuskan ia untuk berinteraksi dengan orang lain.
Dalam proses terapi, terapis mencoba untuk terus mempertanyakan mengenai pendapat Hannah tentang dirinya, seperti mengapa ia takut akan berbicara sesuatu yang bodoh di depan orang lain, dsb hingga di dapat bahwa Hannah memiliki negative belief bahwa dirinya “weren’t worth it being in friends”, Hannah merasa dari skala 100 ia mempercayai negative belief-nya sebanyak 90. Hal ini disebabkan karena ia kesulitan memiliki teman saat berada dibangku sekolah seperti, teman-teman tidak ingin makan siang bersama, tidak diikutkan dalam tim, pesta ulang tahun, dan saat kerja ia tidak ikut minum-minum bersama teman kantornya. Tetapi, ternyata Hannah cukup memiliki hubungan dekat dengan keluarga dan beberapa teman yang menganggapnya ia tidak seburuk yang dipikirkan.
Terapis menyarankan teknik yang ada dalam CBT, yaitu menuliskan dua kolom, seperti berikut:
Thoughts / negative beliefs
Evidence / to against
- Sulit memiliki teman
-            Memiliki hubungan dekat dengan keluarga dan beberapa sahabat
- Merasa tidak di libatkan dalam grup
-           Sahabat nya bilang, Hannah adalah teman yang baik
-  Tidak ikut / menolak pesta yang besar karena banyak orang
-           Dapat mentoleransi kecemasan demi sahabat dan menomor satukan sahabat

-           Selalu memiliki usaha demi teman-teman seperti membuatkan kue, sebagai organize event, dll.
Setelah mendapatkan hasil bahwa fakta yang di dapat lebih banyak untuk melawan pikiran negatif, Hannah menempatkan kepercayaan nya pada negative belief yang dimiliki menjadi 40 dari skala 100.

Dari video tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa terapis menggunakan teknik terapi kognitif-perilaku (cognitive behavioral therapy) atau CBT, yaitu teknik untuk mengenal suatu keadaan sebagaimana keadaan yang sesungguhnya dengan mengubah cara anda berpikir sehingga bisa melihat sesuatu secara lebih seimbang dan terhindar dari dampak negatif dari pemikiran negatif. Pemikiran negatif (sebagai akibat dari pola pikir yang salah seperti disebutkan diatas) sering menghasilkan kecemasan dan perasaan tidak aman. Seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah terperangkap dalam pola pikir yang salah tersebut. Untuk itu, cognitive behavioral therapy (CBT) bisa membantu.
Dr Burns, seorang profesor psychiatri dari Medical Center, Universitas Pennsylvania menerangkan tentang emosi ABC.
A:  actual events (kejadian sesungguhnya)
B:  belief (kepercayaan), yaitu apa yang dipercayai dari kejadian tersebut.
C: consequence (konsekuensi) yang dialami sebagai akibat dari apa yang dipercayai.
Cognitive therapy mencoba mengubah “B”, yaitu apa yang dipercayai dari kejadian tersebut agar tidak perlu mengalami “C” yaitu konsekuensi negatif dari B. Bila bisa menghindari munculnya B negatif (kepercayaan negatif) dari suatu kejadian yang sebenarnya (actual event), maka berarti sudah berhasil mencegah timbulnya konsekuensi negatif (marah, sedih, frustasi, dll). Hal ini sejalan seperti yang diungkapkan oleh Brewin (dalam Trull & Prinstein, 2013) bahwa kognitif merupakan hal yang sangat berperan pening terhadap perilaku yang akan diperbuat oleh seseorang.
Seperti dalam video, terapis mulai mempertanyakan beberapa hal sehingga Hannah dapat menilai bahwa kepercayaan nya salah, yang kemudian di catat terapis seperti tabel yang sudah dituliskan di atas, terapis menyebutnya teknik “downward arrows”. Mulanya, terapis mempertanyakan B (belief) dari Hannah, yaitu saat bicara Hannah takut akan mengeluarkan kalimat bodoh, dianggap tolol, dll., dan C (konsekuensi) seperti Hannah tidak ikut kegitana yang melibatkan orang banyak sepert pergi ke pesta, membina hubungan, dsb. Kemudian terapis juga menanyakan actual event untuk melawan pemikiran-pemikiran yang dipercayai Hannah, actual event nya adalah ternyata Hannah adalah teman yang baik, berusaha menjadi yang terbaik untuk sahabat, dsb. Sehingga setelah hasil “downward arrows” diperlihatkan kepada Hannah, Hannah mulai mengurangi kepercayaannya terhadap negative belief yang selama ini dirasakannya.

Source:
Trull, T. J., Prinstein, M. J., (2013). Clinical psychology. USA: Wadsworth, Cengage Learning
Diktat kuliah: TirtoJiwo, Terapi kognitif dan perilaku untuk penderita depresi (2012)
 #3 PSIKOTERAPI


Source:
Trull, T. J., Prinstein, M. J., (2013). Clinical psychology. USA: Wadsworth, Cengage Learning
Diktat kuliah: TirtoJiwo, Terapi kognitif dan perilaku untuk penderita depresi (2012)

  
Video 1 (Rapport):

Video 2 (Proses terapi):

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hai!

#3 Kepribadian Menurut Erich Fromm