Psikoterapi #1 : Teknik Terapi dari Mahzab Psikologi
PSIKOTERAPI
Oleh: Novia Fridayanti (18514050)
Psikoterapi merupakan cara-cara atau pendekatan yang
mempergunakan teknik-teknik psikologi untuk menghadapi ketidakserasian atau
gangguan mental (Elvira, 2005). Dalam psikoterapi biasanya menggunakan
metode-metode psikologis tertentu yang dapat menghasilkan perubahan/modifikasi
perilaku, afek, dan pikiran sehingga seseorang yang mengalami gejala-gejala
psikopatologi dapat menjadi lebih baik.
Dalam psikologi terdapat tiga mahzab besar yang
masing-masing mempunyai metode tertentu dalam melakukan psikoterapi. Tiga
mahzab tersebut adalah psikoanalisa atau psikodinamika, Behavioristik, dan Humanistik
yang akan dibahas satu persatu kali ini.
A.
Psikoanalisa/Psikodinamika
Tokoh
yang sangat terkenal dan mempengaruhi mahzab ini adalah Sigmund Freud. Pada awalnya
di tahun 1885, Freud mendapat penghargaan untuk belajar di Paris bersama Jean
Charcoat yang bekerja dengan hysteria. Hysteria disini merupakan keadaa dimana
seorang pasien mengalami kelumpuhan, kebutaan, atau ketulian secara tiba-tiba
tanpa ada penyebab secara medis. Charcoat mengobati pasiennya dengan cara
hypnosis sehingga pasien dengan hysteria dapat melepaskan symptom-simptom dan
me-recall pengalaman traumaik nya. Freud mengagumi Charcoat sehingga
mempengatuhi pemikirannya mengenai alam ketidaksadaran manusia.
Beberapa
poin penting dari pemikiran Freud adalah pertama, mengenai insting mati
(Thanatos) dan hidup (Eros), kedua yaitu personality structure meliputi id, ego,
dan super ego, ketiga mengenai perkembangan seksual manusia yaitu masa oral,
anal, laten, phallic, dan genital, serta keempat yaitu system pertahanan diri
manusia sebagai perlawanan apabila manusia merasa egonya terancam. Adapula
teknik-teknik terapi yang digunakan oleh aliran ini, yaitu:
-
Asosiasi
bebas
Aturan
paling penting dalam teknik ini yaitu, seorang pasien harus menceritakan apa
pun yang ada dipikirannya. Hal ini tidaklah mudah karena terapis harus membuat
pasien berhenti untuk membatasi apa yang akan dibicarakan mungkin tentang seks,
hal yang memalukan, dan lain sebagainya. Karena itu, dalam teknik ini
diperlukan kepercayaan pasien pada terapis. Teknik yang biasa digunakan adalah
pasien duduk menyender dengan posisi senyaman mungkin dimana terapis berada
diduduk dibelakangnya ataupun kursi sampingnya, sehingga pasien dapat banyak
membicarakan banyak hal dari hal ia sadari hingga yang tidak disadari yang
biasanya akan mengarah ke kehidupan masa kecil dan permasalahan yang sedang
dihadapinya.
-
Analisis
Mimpi
Mimpi
adalah pikiran, dorongan, dan hasrat yang berada di alam bawah sadar sebagai
pemenuhan keinginan yang tidak disadari, sehingga terbentuklah simbol-simbol
tertentu di dalam mimpi. Freud, membagi mimpi menjadi dua komponen, yaitu:
a. Manisfest content,
yatu pemikiran actual, konten, gambaran dalam mimpi.
b. Latent content,
yaitu arti psikologis di dalam mimpi yang tersembunyi.
Untuk
memahami arti dibalik mimpi, Freudian membagi beberpa tema yang baisa nya ada
dalam mimpi berikut dengan artinya:
a. Mengerjakan
tes yang belum dipersiapkan sebeumnya: Tema seeprti ini berkaitan dengan
perasaan di ekspos dan tes merupak simbl dari penilaian atau evaluasi orang
lain terhadp dirinya.
b. Telanjang
atau tidak berpakaian yang sehasnya di depan umum: Berkaitan dengan perasaan
malu atau perasaan di ejek.
c. Dikejar
atau diserang sesuatu: Pada anak kecil biasanya menandai perasaan takut pada
lingkungan sosial dan pada dewasa menunjukkan sedang berada di keadaan bawah
tekanan.
d. Jatuh:
Merepresentasikan keadaan yang meluap-luap terhadap situasi yang baru saja
terjadi atau sedang kehilangan kendali.
e. Tersesat:
Berkaitan dengan perasaan kehilangan, atau berusaha untuk meneukan tujuan
atauapun ketidakyakinan terhadap bagaimana melakukan sesuatu.
f. Kehilangan
gigi: merepresentasikan perasaan tidak dilihat atau di dengar oleh orang lain
dalam hubungan personal. Dapat juga menggambarkan agresi.
g. Bencana
alam: sangat berkaitan dengan perasaan meluap terhadap permasalahan pribadi
yang tidak bisa dikendalikan
h. Terbang:
menggambarkan perasaan ingin kabur dan terbebas dari suatu situasi
i.
Sekarat atau terluka
parah: meggambarkan kehidupan si pemimpi yang sedang tidak berkembang, seperti
pada hubungan personal atau atribut personal lainnya
j.
Kehilangan kendali saat
mengendarai mobil: menggambarkan perasaan takut dan stress, serta kehilangan
kendali pada kehidupan sehari-hari nya.
Walau pun banyak
psikolog lain yang belum memahami arti mimi tersebut, namun Freud mengatakan
bahwa mimpi memang sebuah representasi dari apa yang dipikirkan seseorang di
alam bawah sadarnya.
-
Hipnosis
Hipnosis
merupakan teknik terapi yang menyertakan keadaan pasien dalam keadaan yang
sangat rileks sehingga pasien tersebut akan fokus pada pikirannya, kemudian
akan terhubung pada berbagai pikiran serta perasaan yang ada di keadaan subconscious mind. Terapi ini biasanya
efektif untuk menangani masalah mental, emosi, kodisi psikis, dan mengurangi kecemasan serta rasa nyeri,
bahkan dapat mengurang gejala-gejala dementia. Ada dua metode terapi hypnosis,
yaitu:
a. analisa
pasien: Hipnosis untuk menemukan penyebab dasar terjadinya sebuah gangguan yang
tersembunyi di alam bawah sadar, dan bila sudah ditemukan penyebabnya, maka
akan dilanjutkan menggunakan psikoterapi lainnya.
b. terapi
sugesti: Apabila seseorang sudah sekali terhipnotis, maka ia akan dengan mudah
mengubah perilaku spesifik nya karena ia akan merespon suatu segesti lebih
baik.
-
Psikoterapi
Adlerian
Alfred
Adler percaya bahwa setiap orang dapat mencapai segala hal. Tujuan dari
psikoterapi yang dilakukan Adler adalah meningkatkan keberanian, mengurangi
perasaan inferior, dan menumbuhkan minat sosial. Sehingga terapi yang digunakan
adalah terfokus pada pasien yang dikelilingi oleh orang lain yang berkaitan
dengan dirinya. Adler juga menetapkan dirinya sebagai congenial worker, dimana ia sebagai terapis berusaha
mengekspresikan sikap baik, peduli, dan ramah terhadap pasien agar pasien dan
orang terdekat nya dapat meyakini bahwa mereka sendiri dapat dipercaya untuk
mengubah sikap pasien.
B.
Humanistik
Humanistik
merupakan mahzab yang mempunyai perspektif bahwa manusia mempunyai
kebetuhan-kebutuhan tertentu untuk mencapai kebutuhan aktualisasi diri. Manusia
harus bisa lepas dari segala kecemasan yang berasal dari masalah-masalah hidup,
keterpurukan saat mengalami kegagalan dalam hidup, dan harus bisa memaknai
kehidupan yang dijalani, dengan kata lain mahzab ini adalah sebagai aliran yang
memanusiakan manusia. Beberapa psikoterapi dalam mahzab ini adalah:
-
Client
Centered Therapy
Salah
satu tokoh dari mahzab ini adalah Carl Rogers. Rogers mengungkapkan bahwa
seseorang harus teribat dalam hubungan yang jujur, memperlihatkan empati, dan
juga penerimaan positif yang tidak bersyarat agar tidak menyebabkan seseorang
untuk bergerak menuju perubahan personal yang konstruktif. Rogers juga
mengungkapkan mengenai self-concept yaitu
kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan
membedakan aku dari yang bukan aku. Dimana hal ini dibagi menjadi dua konsep
yaitu congruence berarti situasi dimana adanya kesamaan atau
konsistennya diri ideal (ideal self)
seseorang dengan pengalaman aktualnya. Rogers membagi positive regard ke dalam dua tipe, yaitu unconditional
positive regard berarti saat manusia itu dicintai dan dihargai sepenuhnya
berdasarkan diri mereka sebenarnya, terutama oleh orangtua dan significant
others-nya. dan yang kedua adalah conditional positif regard yang
berarti seseorang dicintai dan dihargai bukan karena apa adanya mereka
melainkan karena berperilaku sesuai yang diharapkan orang lain. Dan
apabila orang tua menerima anak nya dengan bersyarat, yaitu saat
orang tua menginginkan anak berperilaku sesuai dengan keinginan mereka yang
nanti nya akan berdampak menjadi kegelisahan pada anak tersebut, maka timbulah hal yang dinamakan incongruence yaitu ketidakcocokan
antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan
dan kekacauan batin. Dalam proses terapi client-centered, Rogers membagi beberapa tahapan, yaitu:
a. Adanya
ketidakpercayaan klien terhadap terapis sehingga membuat klien belum terbuka
mengenai dirinya. Apabila ketidakpercayaan ini diteruskan maka akan sangat
berbahaya dalam sesi terapi berikutnya. Sehingga tahap ini terapis bertugas
untuk membuat klien nyaman dan percaya pada nya.
b. Mulai
adanya penjelasan mengenai diri klien namun mash sedikit mengenai pengalaman
personal yang diungkapkan.
c. Penjelasan
mengenai perasaan-perasaan terhadap
masala lalul yang tidak bisa diterima. Klien juga mulai mempertanyakan
validitas permsalahan nya, merekognisi masalah bahwa masalah tersebut berasal
dari diri individu bukan orang lain.
d. Penjelasan
bebas mengenai perasaan yang personal, ingatan samar yang sudah di sangkal
sejak lama diungkapkan pada itu juga, beberapa ekspesi dari tanggung jawab pada
diri sendiri, dll
e. Ekspresi
dari perasaan menerima diri, walau masih masih ada sedikit ketakutan mengingat
kembali konflik yang terjadi antara intelektual dan meosi, menerima pertanggung
jawaban diri, adanya keinginan untuk menjadi sesuatu.
f. penerimaan
diri seutuhnya tanpa penolakan, kepercayaan untuk membangun hubungan dengan
orang lian
g. Individu
menjadi nyaman terhadap dirinya sendiri, sedikit ketidaklarasan, merasakan
perasaaan dan pengalaman yang baru
-
Existential
Therapy
Terapi
ini bertujuan untuk menolong seorang individu untuk meraih kesadaran dan
pengaabilan keputusan unutk melatih sifat bertanggung jawab.Selain itu terapi
digunakan unutk membantu invidu melihat dan memahami makna serta nilai
kehidupan. Cara yang digunakan pada terapi ini biasanya dengan
pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan kepada kien mengenai alasan kegagalan yang
terjadi pada kehidupan masa lalu nya sehingga selama proses terapi, klien akan
mendapatkan pemahaman mengenai makna dan nilai tersebut.
-
Logotherapy
Tokoh
pada terapi ini adalah Viktor Frakl, yang menekankan kemauan akan arti
(meaning). Logotherapy sendiri berasal dari kata logos yang berarti ‘arti’,
yang selanjutnya didefinisikan bahwa logotherapy itu membicarakanarti dari eksistensi
manusia dan kebutuhannya akan arti juga teknik-teknik terapeutis khusus untuk
menemukan arti kehidupan. Logotherapy mengemukakan tiga cara memberi arti
kehidupan: (1) dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan (2) dengan
sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman (3) dengan sikap yang kita
ambil terhadap penderitaan.
C.
Behavioristik
Terapi
perilaku (behavior therapy) dan
pengubahan perilaku, atau pendeketan behavioristik mempunyai seorang tokoh,
yaitu John Broadus Watson. Aliran ini dalam psikoterapi merupakan aliran yang
menitikberatkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai faktor
terpenting untuk seseorang dipengaruhi dan belajar. Aliran ini juga meyakini
bahwa “man grows to be what he is made to
be by his environment”.
Tujuan
dari psikoterapi yang dilakukan oleh aliran behavior ini adalah membentuk
kodisi baru untuk belajar, karena dengan belajar seseorang dapat mengatasi
permasalahannya. Sedangkan menurut Ivey et al (dalam Gunarsa, 2007) tujuan
psikoterapi behavior adalah untuk menghilangkan perilaku dan kesalahan yang
telah terjadi melalui proses belajar dan menggantinya dengan pola perilaku yang
lebih sesuai. Teknik-teknik yang digunakanpada behavioristic adalah:
-
Terapi
desensitisasi
Terapi
ini dikembangkan oleh Salter (1949) dan
Joseph Wolpe (1958). Prinsip dasar dari teknik ini adalah perilaku pembiasaan balik (counter
conditioning) yang menyatakan, orang dapat mengatasi kecemasan maladaptif yang
ditimbulkan oleh situasi atau objek dengan mendekati situasi yang menakutkan
secara bertahap dan dalam suatu keadaan psikofisiologis yang menghambat
kecemasan. Desensitisasi sistematik terdiri dari 3 tahap :
1.
Latihan
relaksasi
Pertama
pasien di ajari mengenai otot yang tegang dan releks, sehingga pasien dapat
membedakan sensasi keduanya. Hal ini bisa dilatih oleh terapis dan pasien
sendiri bahkan saat ada di rumah. Selain itu saat proses relaksasi, tidak
jarang pasien akan diminta untuk membayangkan hal-hal yang dapat membuat rileks
dan juga latihan pernafasan.
2.
Konstruksi
hirarki
Pasien
dan terapis bekerja sama membuat hirarki untuk mengatasi, contohnya adalah
kecemasan berat yang di alami pasien.
3.
Desensitisasi stimulus.
Menurut
Willis, terpai ini bertujuan untuk mengajarkan konseli agar dapat memberikan
respons yang tidak konsisten terkait dengan kecemasan yang dialaminya. Kondisi
demikian bisa diwujudkan dengan menciptakan kondisi nyaman bagi konseli. Terapi
ini biasanya digunakan untuk pasien yang memiliki indikasi kecemasan, fobia,
obsesi kompulsif, gangguan seksual
-
Exposure
Therapy
Terapi
ekposur adalah terapi dengan memaksimalkan kecemasan atau ketakutan konseli
(Corey,2005; Lynn and Garske, 1985). Dua
variasi dari terapi ini adalah in vivo
dan in imagino.
1)
In
Vivo
Pada terapi ini
klien tidak disuruh untuk membayangkan situasi yang ditakutinya, tetapi klien
dihadapkan langsung pada situasi nyata nya. Terapis dan klien membuat hirarki
kecemasan untuk melihat tingkat kecemasan yang dialami klien. Setelah pembuatan
hirarki ini klien dihadapkan pada pemaparan penyebab itu. Klien dapat
menghentikan pemaparan jika ia mengalami tingkat kecemasan yang tinggi. Jadi
contohnya, saat seseorang merasa cemas untuk berdiri di ketinggian, maka pasien
itu akan mengahadapi secara langsung ketautannya dengan berdiri di tempat yang
tinggi secara berthap sesuai dengan hiraki yang sudah di buat.
2)
In
imagino
Tidak seperti in vivo, pada in imagino pasien cukup membayangkan hal yang membuat kecemasannya
atau ketakutannya meningkat sebagai proses belajar dalam menghadapi
ketakutannya tersebut.
-
Terapi Aversif
Prinsip
dari terapi ini adalah perilaku yang dibentuk untuk menghindari konsekuensi
yang tidak menyenangkan. Aversif terapi bukanlah suatu Isingle therapy, melainkan terapi yang terdiri dari beberapa bagian
yang mempunyai prosedur berbeda pula.
Tehnik :
ada tiga tipe pokok :
1.
Pengkondisian klasik
2.
Penghukuman
3.
Pelatihan menghindari stimulus berbahaya
Pasien
yang menggunakan terapi ini adalah yang memiliki indikasi gangguan perilaku
destruktif
-
Pemodelan
Dalam
beberapa hal, teknik modeling digunakan terapis sebagai strategi terapi untuk
membantu klien memperoleh respon atau menghilangkan rasa takut. modeling adalah
suatu komponen dari suatu strategi konselor untuk menyediakan demonstrasi
tentang tingkah laku yang menjadi tujuan. Model disini dapat menggunakan model
yang sesungguhnya maupun simbolis. Tehnik telah berhasil digunakan pada fobia
anak dan agoraphobia
-
Biofeedback.
Teknik
terapi ini dikembangkan oleh Neal Miller. Didasarkan pada konsep bahwa respon
autonomik dapat dikendalikan melalui pembiasaan pelaku atau instrumental. Manifestasi fisiologis kecemasan dapat
diturunkan melalui pengajaran untuk menyadari perbedaan fisiologis antara
ketegangan dan relaksasi Teknik nya adalah:
1. Pasien diberitahu mengenai
status fungsi biologik tertentu (temperatur, tekanan darah tegangan otot,
denyut jantung, aktivitas otak
2. Pasien diajar
mengatur satu atau lebih keadaan biologis tersebut yang mempengaruhi gejala.
References:
Trull, J., Prinstein, J. (2013). Clinical Psychology.USA. Wadsworth Cengage learning
Kleinmann, P. (2012). Psych 101. USA: Adams Media
Elvira., D. (2005). Kumpulan Makalah Psikoterapi. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI
Feist, J., Feist, J. (2010). Theories of Personality. USA: Mc Graw
Hill Educaion
Gunarsa.
(2007). Konseling dan Psikoterapi.
Jakarta. BPK Gunug Mulia
digilib.uinsby.ac.id
Komentar
Posting Komentar