Sehat dari Berbagai Macam Orientasi
Ada
banyak sekali pendapat yang mengutarakan mengenai definisi sehat, namun dari
banyaknya pendapat itu dapat disimpulkan bahwa sehat merupakan keadaan psikis
dan fisik yang berada dalam keadaan tidak
ada kelainan atau pun permasalahan
yang dianggap berbeda oleh masyarakat sekitar, karena sebetulnya keadaan
normal/tidak normal, sehat/tidak sehat itu juga bergantung dengan bagaimana
lingkungan sosial budaya menilainya oleh sebab itu definisi sehat di setiap
daerah pasti akan berbeda-beda.
Didalam
mencari konsep sehat, kita tidak akan terlepas dari dimensi-dimensi bagaimana
kita menilai kesehatan tersebut. Ada beberapa dimensi yang akan diulas, yaitu:
a.
Sehat
yang berorientasi secara intelektual
Dari kata intelektual
itu sendiri pun, dapat diartikan bahwa orientasi ini mengarah pada kemampuan
kognitif seseorang. Seseorang dapat dinilai sehat atau tidak intelektualnya
bisa ditentukan dari bagaimana ia memecahkan masalah, mencari jalan keluar dari
suatu permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang terbaik, perkembangan
logika nya, bagaimana ia memehami suatu hal, dan mampu mencari wawasan yang
seluas-luasnya. Salah satu tes yang biasanya digunakan untuk mengetahui hal
tersebut adalah dengan tes IQ (Intelegence
Quotient) yaitu dengan tes WAIS-IV, WISC-IV, WPPSI-II, dan lain sebagainya.
Beberapa kelainan atau disebut juga intelektual yang tidak sehat salah satunya
seperti retardasi mental, alzheimer, autism, schizophrenia dll.
b.
Sehat
yang berorientasi secara emosi
Konsep sehat secara
emosi sudah tentu melibatkan emosi-emosi yang ada pada diri manusia. Ada
beberapa emosi dasar pada diri manusia seperti bahagia (happy), marah (anger),
sedih (sad), jijik (disgust), takut (fear), dan kaget (sureprise).
Dan yang dikatakan sehat secara emosional berarti sesorang mampu mengatur dan
mengelola emosi itu dengan baik, yang artinya ia bisa mengekspresikan emosi
terhadap suatu hal dengan baik namun juga ia bisa menempatkannya sesuai dengan
kondisi dan situasi. Salahsatu dosen saya juga pernah mengatakan bahwa untuk
menjadi asertif (mampu mengekspresikan emosi/sesuatu hal) itu tidak cukup
dengan “saya” merasa baik-baik saja setelah meluapkan emosi tersebut, namun
kita perlu juga melihat bagaimana kondisi seseorang yang menjadi objek peluapan
emosi kita apakah dia baik-baik saja atau tidak, karena apabila seseorang tersebut
merasa tidak baik artinya “saya” adalah bukan seseorang yang asertif melainkan
seseorang yang agresif. Selain itu adapun beberapa kelainan pada emosi seperti depresi,
ADHD, bipolar, dll. Untuk itu sangat penting bagi kita melatih emosi kita agar
setiap orang merasa nyaman dengan perasaannya. Namun meski bebas dari sakit
emosional, tidak adanya tingkah laku neurotis atau psikotis tidak cukup utuk
menilai seseorang sebagai pribadi yang yang sehat. Tetapi ketidakadaan nya
sakit emosional merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan pemenuhan diri seseorang.
c.
Sehat
yang berorientasi secara sosial
Konsep sehat secara
sosial dapat dilihat dari bagaimana seseorang bertingkah laku di dalam
lingkungan sosial seperti keluarga, kantor, ataupun lingkup masyarakat.
Seseorang yang sehat secara sosial berarti ia mampu untuk beradaptasi di
lingkungannya dengan baik, serta dapat dilihat apakah ia mampu menjalin banyak
pertemanan, mempertahankan suatu hubungan, dan bisa memahami orang lain juga
norma-norma yang berlaku dimasyarakat tersebut. Karena orang yang sehat secara
sosial sedikit sekali menyebabkan konflik didalam suatu hubungan, ada beberapa
penyakit sosial dimana penderita kesulitan dalam bersosialisasi diantaranya
adalahyang sering disebut dengan anti sosial, social anxiety disorder, perilaku criminal, agresif, dll.
d.
Sehat
yang berorientasi secara fisik
Sehat secara fisik
adalah keadaan dimana seluruh organ tubuh baik dalam ataupun luar dalam keadaan
baik, berjalan sesuai dengan fungsinya secara normal dan tidak menimbulkan
masalah, apalagi mengganggu aktifitas sehari-hari. Sehat secara fisik merupakan
salah satu komponen penting agar seseorang dapat menjalankan kehidupan secara
maksimal dan mendapatkan arti sehat seutuhnya. Sehat secara jasmani dapat
dilihat dengan penampilan fisik yang bugar, kulit cerah, mata yang bersinar,
berenergi sepanjang hari, selera makan yang baik, dll.
e.
Sehat
yang berorientasi secara spiritual
Konsep sehat secara
spiritual brarti bagaimana seseorang mampumencapi kedamaian hati, yang
melibatkan kepercayaan dan praktek keagamaannya. Sehat secara spiritual juga
berarti seseorang dapat mengekspresikan rasa syukur, berpikiran jernih, tidak berprasangka
negative pada oranglain, mempercayai bahwa ada suatu kekuatan lain diluar
dirinya yang sulit untuk dilihat agar ia selalu berprilaku positif dan tenang
secara batiniyah. Dengan kata lain, ia bisa mempraktikan kegiatan beribadah
sesuai dengan ajaran agamanya agar selalu merasa ketenangan dan kedamaian di
dalam hatinya.
Dari
5 dimensi konsep sehat tersebut dapat disimpulkan bahwa satu sama lain itu
saling berhubungan, tidak bisa berdiri sendiri dan memiliki arti penting bagi
kesehatan yang utuh pada diri manusia. Untuk itu, setiap manusia harus selalu
berusaha untuk menyeimbangkan setiap elemen yang ada di dalamnya, karena jika
tidak akan muncul permasalahan yang menganggu kesempurnaan dan tentunya membuat
aktivitas sehari-hari tidak berjalan secara maksimal. Dan apabila muncul suatu
permasalahan tersebut baik nya langsung di tangani oleh ahli dibidangnya karena
hal tersebut akan rumit dipahami
mengingat 5 dimensi tersebut yang saling terkait.
Daftar
pustaka:
Schultz Duane.1997. Growth Psychology :
Models of the Healthy Personality. New York: D. Van Nostrand Company. Oleh:
Drs. Yustinus, Msc., OFM
Trull
J., Prinstein J. 2012. Clinical
Psychology. USA: Wadsworth, Cengage Learning.
Komentar
Posting Komentar