Sumber Daya Manusia, Kepemimpinan, dan Organisasi di Indonesia
SUMBER
DAYA MANUSIA
Sumber
daya manusia merupakan elemen yang sangat penting dalam satu perusahaan. Mengapa
SDM sangat penting dalam suatu organisasi ataupun perusahaan?
Kegagalan
mengelola sumber daya manusia dapat mengakibatkan timbulnya gangguan dalam
pencapaian tujuan dalam organisasi, baik dalam kinerja, profit, maupun
kelangsungan hidup organisasi itu sendiri. Kondisi umum saat ini menunjukkan
bahwa perusahaan masih lemah dalam beberapa hal antara lain, manajemen yang
tidak efisien, keterbatasan dana dan teknologi serta kualitas SDM yang belum
memadai. Menurut Nawawi (2001) ada tiga pengertian
sumber daya manusia yaitu :
a)
Sumber daya manusia adalah manusia yang
bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).
b)
Sumber daya manusia adalah potensi
manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.
c)
Sumber daya manusia adalah potensi yang
merupakan aset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) di
dalam organisasi bisnis, yang dapat mewujudkan menjadi potensi nyata (real)
secara fisik dan non-fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.
Muhammad Tholhah Hasan : Karyawan
atau Sumber daya manusia adalah seperti kekuatan fisik manusia, pengetahuannya,
keahliannya atau ketrampilannya, semangat dan kreatifitasnya, kepribadiannya
serta kepemimpinannya
Berdasarkan
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia adalah suatu
proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi, agar
potensi fisik dan psikis.
Selain itu juga ada yang disebut sebagai manajemen sumber daya manusia yang merupakan
bagian tak terpisahkan dari manajemen suatu organisasi. Kegunaan manajemen
sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi orang pada organisasi
dalam cara-cara yang secara strategis, etis, dan sosial dapat dipertanggung
jawabkan. Manajemen sumber daya manusia memberikan sumbangan secara langsung
pada peningkatan produktivitas melalui penemuan cara-cara yang lebih efisien
dan efektif untuk mencapai tujuan dan secara tidak langsung melalui peningkatan
mutu kehidupan kerja karyawan.
Fungsi dari manajemen
sumber daya manusia menurut Fisher (1993) adalah setiap fungsional
dalam sumber daya manusia dengan banyak aktivitas harus unggul sehingga
organisasi dapat memberikan kontribusi yang optimal menuju organisasi sukses.
Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu sistim yang terdiri dari banyak
kegiatan yang saling tergantung (interdependent).
Dalam
sebuah perusahaa biasanya yang paling berperan dalam pemilihan SDM adalah
bagian Human Resources Development,
mulai dari seleksi dan recruitment, mengkondisikan karyawan agar tetap
mempunyai efektivitas kerja tinggi, kekompakkan anggota perusahaan, dll.
Contoh perusahaan Indonesia
yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai HRD terbaik se-Asia pada tahun 2012
adalah Pelindo-II, karena salah
satunya Pelindo-II ini focus dalam menerapkan job training, dan Pelindo II dinilai
mampu melakukan transformasi SDM, dari perusahaan yang monopolistik menuju
pelabuhan yang kompetitif dengan cara mengubah paradigma karyawannya.
a. Definisi
Kepemimpinan
Kepemimpinan mengandung makna
perpaduan antara subyek yang melaksanakan fungsi sebagai pemimpin berbanding
lurus dendan tuntutan akan fungsi yang harus dijalankan. Menurut Hemhill dan
Coon (1995), Kepemimpinan merupakan sikap dari
suatu kelompok menuju suatu tujuan yang ingin dicapai bersama-sama.
Sedangkan menurut Reed (1976) kepemimpinan
ialah suatu cara mempengaruhi perilaku seseorang agar perjuangan dapat
dilakukan mengikuti kehendak dari seorang pemimpin. Dan Soerjono Soekanto (2001: 318)
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin atau leader untuk
mempengaruhi orang yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya. Sehingga orang lain
tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut.
Kalau ditelusuri
pemimpin dan kepemimpinan memiliki arti penting dalam suatu kelompok jika
terjadi konflik atau perselisihan diantara orang-orang dalam kelompok. Ketika
konflik terjadi, orang-orang mencari cara pemecahan supaya terjamin keteraturan
dan dapat ditaati bersama. Terbentuklah aturan-aturan atau norma-norma tertentu
untuk ditaati agar konflik tidak terulang lagi. Disini orang-orang mulai
mengindentifikasi dirinya pada kelompok, kehidupan sangat dibutuhkan, dan
konflik perlu di hindari. Dalam hal ini
peranan pemimpin sangat dibutuhkan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah
kemampuan yang dimliki tenaga kerja untuk meyakinkan orang lain (tenaga kerja lainnya)
sehingga dapat dikerahkan secara maksimal dalam melaksanakan tugas pokok.
Asta Brata (Soerjono Soekanto, 2001: 322) menyatakan
kepemimpinan yang akan berhasil, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
a.
Indra-brata, yang memberikan kesenangan jasmani.
b.
Yama-brata, yang menunjukkan pada
keahlian dalam kepastian hukum.
c.
Surya-brata, yang menggerakkan bawahan
dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasion.
d. Caci-brata, yang memberikan kesenangan rohaniah.
e. Bayu-brata, yang menunjukkan keteguhan pendidikan dan rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran pengikut-pengikutnya.
f. Dhana-brata, menunjukkan pada suatu sikap yang patut dihormati.
g. Paca-brata, yang menunjukkan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian dan keterampilan.
h. Agni-brata, yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah.
d. Caci-brata, yang memberikan kesenangan rohaniah.
e. Bayu-brata, yang menunjukkan keteguhan pendidikan dan rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran pengikut-pengikutnya.
f. Dhana-brata, menunjukkan pada suatu sikap yang patut dihormati.
g. Paca-brata, yang menunjukkan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian dan keterampilan.
h. Agni-brata, yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah.
Kartini
Kartono (2006: 36) mengungkapkan bahwa konsepsi mengenai persyaratan
kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu sebagai
berikut.
a.
Kekuasaan ialah kekuatan, otoritas dan
legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan
menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu.
b.
Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan,
keutamaan, sehingga orang mampu “Mbawani”
atau mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada pemimpin, dan
bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.
c.
Kemampuan ialah segala daya,
kesanggupan, kekuatan dan kecakapan atau keterampilan teknis maupun sosial,
yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota
biasa.
b. Gaya Kepemimpinan
E.
Mulyasa (2009) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah cara yang dipergunakan
pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Sedangkan Miftah Thoha (2010)
menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten
yang kita tunjukkan dan diketahui oleh pihak lain ketika kita berusaha
memengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain.
Berdasarkan
uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu
pola perilaku yang secara konsisten diketahui oleh pihak lain ketika
mempengaruhi orang lain.
Gaya kepemimpinan menurut Thoha (2013)
mengatakan bahwa gaya kepemimpinan terbagi menjadi dua kategori gaya yang
ekstrem, yaitu:
1.
Gaya kepemimpinan otokratis, gaya ini
dipandang sebagai gaya yang di dasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas.
2.
Gaya kepemimpinan demokratis, gaya ini
dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikutsertaan para pengikut dalam proses
pemecahan
3.
masalah dan pengambilan keputusan
Gaya kepemimpinan menurut pendapat
Hasibuan (2007) gaya kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.
Kepemimpinan Otoriter, kekuasaan atau wewenang sebagian besar mutlak tetap
berada pada pimpinan atau kalau pimpinan itu menganut sistem sentralisasi
wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikut sertakan untuk memberi saran,
ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Orientasi
kepemimpinannya difokuskan hanya untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan
dengan kurang memperhatikan bawahan
2.
Kepemimpinan Partisipatif, kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif,
menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para
bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan.
Bawahan harus berpartisipasi memberikan saran, ide, dan pertimbangan dalam
proses pengambilan keputusan. Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong
kemampuan bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pimpinan akan selalu
membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.
3.
Kepemimpinan Delegatif, Kepemimpinan Delegatif apabila seorang pemimpin
mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian,
bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa
dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada bawahan.
Pada prinsipnya pemimpin bersikap menyerahkan dan mengatakan kepada bawahan
inilah pekerjaan yang harus saudara kerjakan, saya tidak peduli, terserah
saudara bagaimana mengerjakannya asal
pekerjaan tersebut bisa
diselesaikan dengan baik. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki
kematangan dalam pekerjaan (kemampuan) dan kematangan psikologis. Kematangan
pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang didasarkan
pengetahuan dan keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan
atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan rasa yakin
Ada
pun gaya mempimpin lainnya, yaitu:
a.
Teori kepemimpinan The Great Man Theory
Menurut teori kepemimpinan ini seorang pemimpin besar terlahir sebagai pemimpin yang yang memiliki ciri-ciri yang istimewa yang mencakup: karisma, kecerdasan, kebijaksanaan dan dapat menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat berbagai keputusan yang memberi dampak besar bagi sejarah manusia. Karisma sendiri menunjukkan kepribadian seseorang yang dicirikan oleh pesona pribadi, daya tarik, yang disertai dengan kemampuan komunikasi interpersonal dan persuasi yang luar biasa. Teori kepemimpinan ini sebagian besar bersandar pada pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Thomas Carlyle di abad 19 yang pernah menyatakan bahwa sejarah dunia tak lain adalah sejarah hidup orang-orang besar. Menurutnya, seorang pemimpin besar akan lahir saat dibutuhkan sehingga para pemimpin ini tidak bisa diciptakan.
Menurut teori kepemimpinan ini seorang pemimpin besar terlahir sebagai pemimpin yang yang memiliki ciri-ciri yang istimewa yang mencakup: karisma, kecerdasan, kebijaksanaan dan dapat menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat berbagai keputusan yang memberi dampak besar bagi sejarah manusia. Karisma sendiri menunjukkan kepribadian seseorang yang dicirikan oleh pesona pribadi, daya tarik, yang disertai dengan kemampuan komunikasi interpersonal dan persuasi yang luar biasa. Teori kepemimpinan ini sebagian besar bersandar pada pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Thomas Carlyle di abad 19 yang pernah menyatakan bahwa sejarah dunia tak lain adalah sejarah hidup orang-orang besar. Menurutnya, seorang pemimpin besar akan lahir saat dibutuhkan sehingga para pemimpin ini tidak bisa diciptakan.
b.
Teori kepemimpinan Trait Theory
Teori kepemimpinan ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Great Man Theory yang mengatakan bahwa para pemimpin dilahirkan dan bukan diciptakan (leader are born and not made). Tetapi sejalan dengan pemikiran mahzab behavioralis, pada peneliti di tahun 1950-an berkesimpulan bahwa karakteristik pemimpin tidak seluruhnya merupakan bawaan sejak lahir, namun diperoleh melalui pembelajaran dan pengalaman. Karena itu mereka berkesimpulan bahwa kepemimpinan yang efektif dapat dipelajari. Riset mereka menunjukkan bahwa ada karakteristik individu yang dimiliki oleh seorang pemimpin sehubungan dengan kepemimpinan efektif, yaitu: Kecerdasan, Pengetahuan & keahlian, Dominasi, Percaya diri, energi yang tinggi, Toleran terhadap stress, Integritas & kejujuran, Kematangan.
Teori kepemimpinan ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Great Man Theory yang mengatakan bahwa para pemimpin dilahirkan dan bukan diciptakan (leader are born and not made). Tetapi sejalan dengan pemikiran mahzab behavioralis, pada peneliti di tahun 1950-an berkesimpulan bahwa karakteristik pemimpin tidak seluruhnya merupakan bawaan sejak lahir, namun diperoleh melalui pembelajaran dan pengalaman. Karena itu mereka berkesimpulan bahwa kepemimpinan yang efektif dapat dipelajari. Riset mereka menunjukkan bahwa ada karakteristik individu yang dimiliki oleh seorang pemimpin sehubungan dengan kepemimpinan efektif, yaitu: Kecerdasan, Pengetahuan & keahlian, Dominasi, Percaya diri, energi yang tinggi, Toleran terhadap stress, Integritas & kejujuran, Kematangan.
c.
Teori
Kepemimpinan Behavioral Styles Theory
Selama perang dunia II studi mengenai teori kepemimpinan mengalami perubahan arah yang signifikan dari mempelajari ciri-ciri individu menjadi pola perilaku pemimpin yang disebut dengan leadership styles. Dengan demikian maka fokus beralih dari “siapa pemimpin itu” menjadi “bagaimana seorang pemimpin berperilaku atau menjalankan gaya kepemimpinan”
Selama perang dunia II studi mengenai teori kepemimpinan mengalami perubahan arah yang signifikan dari mempelajari ciri-ciri individu menjadi pola perilaku pemimpin yang disebut dengan leadership styles. Dengan demikian maka fokus beralih dari “siapa pemimpin itu” menjadi “bagaimana seorang pemimpin berperilaku atau menjalankan gaya kepemimpinan”
d.
Teori
kepemimpinan situasional
Teori menurut Hersey dan Blanchard (Miftah Thoha,
2010: 63) ini, adalah kepemimpinan yang didasarkan atas hubungan saling
mempengaruhi antara lain sebagai berikut.
1. jumlah
petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh
pimpinan.
2. jumlah
dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan, dan
3. tingkat
kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukkan dalam melaksanakan
tugas khusus, fungsi, atau tujuan tertentu
Dari teori kepemimpinan
ini, saya mengambil contoh dari CEO PT. Young On Top Nusantara, dimana beliau sangat
memperhatikan, memperketat etos kerj, dan tidak membatasi apa yang akan
dilakukan karyawannya selama hal tersebut memberi dampak baik pada perusahaan
dan karyawan itu sendiri. Selain itu, beliau mempunya kemampuan kecakapan,
keterampilan sosial, dan menggerakaan karyawan sehingga karyawan memunyai etos
kerja dan disiplin yang tinggi. Selain itu, berbicara kepemimpinan, tidak akan
luput dari presiden pertama Republik
Indonesia yaitu Bapak Ir. Soekarno. Dimana beliau dalam mempimpin mempunyai
gaya demokratis dimana bliau selalu mengedepankan rakyat nya, ditambah beliau
merupakan sosok yang kharismatik sehingga dalam periode kepemimpinannya beliau
sangat dihormati oleh rakyat, hal ini sangat cocok dengan teori the great man.
ORGANISASI
Tossi, Rizzo dan Carroll (1994)
mengatakan bahwa “…a group of people,
working toward objectives, which
develops and maintains relatively stable and predictable behavior pattern, even
though the individuals in the organization may cahnge. usually we desribe
organizations in terms of how ther differ on three dimensions: complexity,
formalization, and centralization.”
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa organisasi itu sekelompok orang yang bekerja untuk mengembangkan
dan mencapai tujuan organisasinya yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a.
Complexity
(kemajemukan),
beragam kegiatan, fungsi, pekerjaan dan jumlah lapis dalam organisasi dimana
organisasi perusahaan yang dikembangkan tersebut berdasarkan satu ‘cetak biru’.
Dalam orgaisasi majemuk akan ditemukan masalah-masalah kendali dan koordinasi
yang lebih banyak dan semakin kompleks, baik dilihat dari pembagian department, tugas, konflik,
kedudukan, dan lainnya. Contohnya adalah
perusahaan Mcdonalds Coorperation, yang mempunyai banyak cabang hingga ke
daerah-daerah diseluruh dunia. tentu struktur organisasinya juga akan lebih
kompleks dibanding perusahaan lain ditambah menu Mcdonald juga di sesuaikan
dengan daerah mana restorannya berada.
b.
Formalization
(formalisasi),
mengacu pada adanya kebijakan, prosedur, dan aturan yang membatasi pilihan dari
anggotanya. Para karyawannya diharapkan dapat berperilaku sesuai dengan
kebijaka dan prosedur yang sudah ditentukan perusahaan, maka semakin suatu
perusahaan itu formalized, maka semakin pula kebebasan karyawannya ditekan
untuk mengambil keputusan.
c.
Centralization
(pemusatan),
hal ini sangat berkaitan pula dengan daya (power)
dan wewenang (authority) dimana dalam
centralized organizations ada pada
kedudukan tinggi dalam sebuah organisasi. Sedangkan pada decentralized organizations, hak dan tanggung jawanya ada pada
kedudukan yang lebih rendah. Untuk contoh McD diatas dapat dikatakan perusahaan
tersebut menggunakan tipe decentralized,
dimana keputusan ada pada kepala cabang daerah tertentu, bukan semata-mata pada
pemilik perusahaan pusatnya.
Jenis-jenis organisasi
dikelompokkan menjadi empat menurut Tosi, Rizzo, dan Carroll yaitu:
a. Organisasi
mekanistik, dimana perusahan ini formalisasinya tinggi yaitu dengan cara
bekerja beulang, pembagian pekerjaan yang ketat, tingkat keterampilan keja yang
rendah, dan sumber supply yang mantap. Sehingga organisasi tipe ini sangat
cocok dan akan akan berfungsi sangat bak di lingkungan yang teknologi serta
pasarannya stabil.
b. Organisasi
Organik, di tipe ini formalisasinya rendah seperti kerjs tidak rutin, batasan
pekerjaan tidak ketat, memerlukan keterampilan tinggi,dan diperlukan
nilai-nilai perubahaan. Tipe ini cocok dilingkungan yang teknologi san pasarnya
samar (volatile), yaitu lingkungan
pasarnya stabil tapi teknologinya samar.
c. Organisasi
Campuran, pertama yaitu dengan dominasi teknologi dimana pemasaran tinggi namun
bidang teknologi rendah. Sedangkan yang kedua dengan dominasi pasar,
pemasarannya rendah namun teknologinya tinngi.
Selanjutnya,
pengembangan organisasi di
definisikan oleh McGill (1980) sebagai
suatu proses sadar dan terencana untuk mengembagkan kemampuan suatu organisai,
sehingga mencapai dan mempetahankan suatu tingkat optimum prestasi yang diukur
berdasarkan efisiensi, efektivitas dan kesehatan. Untuk mengembangkan
organisasi, dikenal beberapa teknik intervensi, yaitu diataranya adalah:
a. Survey Feedback,
yaitu dimana organisasi dan konsultan perilaku organisasi bekerjasama utuk
mengupayakan pengembangan kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data tenang
organisasi, menganalisis, serta menginterpretasikan data sebagai dasar untuk
melakukan perubahan.
b. Process Consultation, Schein
(1980) mendefinisikannya sebagaisekumpulan kegiatan pihak konsultan yang
membantu klien untuk merasakan, mengerti, dan bertindak terhadap peristiwwa
mengenai proses yang terjadi di lingkungan klien.
c. Tem Building, suatu
proses diagnosis dan peningkatan efektivitas kerja suatu kelompok dengan
perhatian khusus terhadap prosedur kerja dan hubungan antar pribadi didalamnya.
Dalam
organisai juga dikenal istilah budaya
organisasi, yaitu cara-cara berpikir, berperasaan, dan bereaksi berdasarkan
pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi tersebut. Budaya organisasi adalah suatu pola asumsi dasar yang
dimiliki bersama yang didapat oleh suatu kelompok ketika memecahkan masalah
penyesuaian eksternal dan integrasi internal, yang telah berhasil dengan cukup
baik untuk dianggap sah dan karena itu, diinginkan untuk diajarkan kepada
anggota baru sebagai cara yang tepat untuk menerima, berpikir dan merasa
berhubungan dengan masalah tersebut Budaya organisasi juga merupakan landasan
setiap anggota dalam sikap dan perilaku di setiap aktivitas perusahaan yang
menjadikan perekat hubungan diantara anggota perusahaan.
Contoh perusahaan yang bisa diamati adalah Google Indonesia, yaitu dengn suasana
perusahaan yang nyaman, serta kebudayaan etos kerja yang santai, justru membuat
perusahaan ini semakin berkembang dan sukses sebagai salah satu pendukung
teknologi mesin pencari terbaik di Indonesia.
Ketiga
hal tadi, yaitu SDM, kepemimpinan, serta
organisasi semuanya saling terkait satu sama lain. Sebagai contoh, apabila SDM
yang dipilih oleh suatu perusahaan tidak berkualitas dan tidak sesuai dengan
kriteria yang dibutuhkan, maka perusahaan tersebut juga yang akan mengalami
kerugian. Tidak hanya SDM yang berpengaruh, namun juga bagaimana seorang pemimpin
dalam organisasi tersebut bertindak dan budaya kerja akan sangat mempengaruhi
kebjikan dan efektivitas kerja dari SDM atau karyawannya yang tentu akan sangat
berdampak baik pada kemajuan maupun kemundururan organisasi tersebut. Seperti
yang dapat digambarkan pada bagan konseptual dibawah ini,
Dimana :
X1
= Kepemimpinan ( Variabel
Independent )
X2
= Budaya Organisasi ( Variabel
Independent )
Sumber:
Munandar. Ashar.
2014.Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
(UI-Press)
Siagian, Sondang P. (2000). Manajemen
Sumber daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Sunarto. dan R. Sahedhy
Noor SK.(2001). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yokayakarta: BPFE-UST dan
Pena Persada.
Mulyadi (2001). Balance
Scorecard. Jakarta: Salemba Empat.
http://quickstart-indonesia.com/teori-kepemimpinan/
file.upi.edu/Direktori/.../pengertian_organisasi.pdf
eprints.utm.my
herususilofia.lecture.ub.ac.id
mobile.repository.polnep.ac.id
Komentar
Posting Komentar